Bertema “Harmonisasi Cinta dan Kehidupan”, teater tiyang alit turut mengundang perkumpulan teater dari universitas lain. “Puas rasanya, udah bisa mengadakan pementasan dan disaksikan oleh penonton dari luar” ujar Renny Elvira, pimpinan produksi pementasan. Namun mereka tetap mendapat bantuan dari senior.
Pementasan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Sebagai pembuka, ditampilkan drama berjudul berjudul “Ayah dan Cinta”. Drama yang berlangsung selama kurang lebih empat puluh lima menit itu bercerita mengenai seorang anak yang kesepian karena orangtuanya terlalu sibuk bekerja. Gadis SMP bernama Cinta harus menelan sendiri atas kesedihan yang dirasakan akibat ditinggal mati oleh ibunya. Esensi dari drama pembuka itu adalah bahwa seorang anak jauh lebih membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya secara batin daripada materi. “Percuma saja kita diberi kelimpahan harta namun miskin kasih sayang” tambah mahasiswi Statistik itu.
Penampilan kedua bertajuk musikalisasi puisi. Seorang gadis membacakan semacam puisi berbahasa jawa dengan diiringi alunan gitar. Sebagai penutup, penampilan terakhir sengaja dibuat sebagai penyegaran. Jika penampilan sebelumnya terkesan serius dan mengharukan, maka di penampilan terakhir banyak terselip unsur komedi yang kerap membuat penonton tergelak. Drama berjudul “Para Perusak”, seolah menyentil penonton agar memelihara kekayaan negara. Lebih lanjut mengenai pemanfaatan kekayaan negara harus dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Apalagi dijual pada negara asing. “Penampilan terakhir disajikan sedikit nakal, namun sarat akan arti” pungkasnya(ula/)
