Minggu, 10 Juli 2011

CARA SEHAT BERTAMU KE SARANG HANTU

LENGANG: Suasana Ruang Praktikum Anatomi Sebelum Digunakan Praktikum Rabu (6/7)

Sudah menjadi rahasia umum jika kampus A Univerbu sitas Airlangga mengubur banyak cerita mistis. Alasan utamanya jelas, gedung yang berdiri di Jalan Mayjen. Prof. Dr. Moestopo Surabaya ini telah didirikan sejak tahun 1923. Dimana menurut pelajaran Sejarah yang pernah kupelajari sejak Sekolah Dasar, pada tahun itu Indonesia belum terlepas dari penjajahan Belanda. Berangkat dari isu tersebut aku mencoba untuk mengulik sejumput kisah yang tersembunyi di balik kampusnya para dokter itu.
            Berdasarkan informasi yang kudapat dari salah satu teman yang merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran, ia menyarankan agar aku bergerak menuju Ruang Praktikum Anatomi. Konon katanya, banyak cerita diluar nalar yang bisa digali dari sana. Setelah bertanya ini itu mengenai siapa orang yang berkompeten untuk menjadi narasumber dan sharing pengalaman denganku, bertemulah aku dengan Pak Suma’in, tenaga laboratium ruang anatomi.


            Tugas Pak Suma’in dan empat orang lainnya yang jabatannya sama dengan beliau, yakni Pak Hendro, Pak Joko Sugeng, dan Pak Yatiman adalah memindahkan kadafer (istilah kedokteran yang digunakan untuk menyebut mayat/ jasad manusia yang sudah meninggal) yang dikirim dari Rumah Sakit Dr. Soetomo untuk disimpan di ruang pengawetan. Sebelum disimpan, kadafer tersebut harus dimandikan dan dibelah pada bagian tubuh tertentu untuk mengurangi bau-bauan tidak sedap.
Kadafer kemudian ditempatkan pada sebuah bak yang telah dibubuhi campuran air dan formalin untuk pengawetan. Setelah dua tahun, barulah kadafer bisa digunakan untuk keperluan praktikum mahasiswa kedokteran mulai semester tiga. Pak Suma’in yang telah bekerja di FK selama 28 tahun itu mengaku terkadang mengalami suatu hal yang dirasa ganjil. Seperti, pintu ruang praktikum anatomi yang tiba-tiba bergetar sendiri saat pak Suma’in hendak menguncinya, bisikan aneh, hingga mimpi yang seperti berkaitan dengan pekerjaannya.
Awalnya aku merasa tidak ada yang aneh dari cerita itu. Tidak, sampai Pak Suma’in memberi masukan kepadaku untuk menemui satpam kampus yang biasa melakukan patroli malam dengan mengelilingi kampus. Sampailah pada satu nama yang direkomendasikan oleh Pak Suma’in. Satu nama yang merujuk pada salah seorang satpam senior yang akan menggantung seragamnya tahun depan. Pak Sunyoto, lelaki yang tinggal di Sidoarjo itu telah bekerja di FK selama 30 tahun. Sekilas hanya keramahan yang terpancar dari wajah satpam yang saat ditemui sedang berjaga shift pagi di loket Fakultas Kedokteran Gigi. Maklum, di usianya yang sudah mulai senja ia hanya dibebankan untuk bekerja di pagi hingga siang hari.
            Saat berkenalan dengan Pak Nyoto (panggilan akrab Pak Sunyoto), beliau terkejut ketika aku menyebutkan daerah asalku. Karena beliau juga lahir di kota yang sama denganku, Tulungagung. Lalu, beliau mulai menceritakan pengalaman berbau mistis yang pernah dialaminya selama ini. Menurut beliau, ruang praktikum anatomi bisa disebut sarangnya makhluk halus di kampus A. Bukan tanpa alasan beliau mengatakan seperti itu. Menurutnya, kadafer-kadafer yang selama ini diawetkan lalu dibuat praktikum kadang merasa tidak terima melihat jasadnya diganggu oleh orang lain.
Ya, meskipun sudah meninggal namun ruh manusia yang termasuk dalam 4T (Tempat Tinggal Tidak Tetap) itu masih suka berkeliling di sekitar jasadnya yang sudah tak bernyawa lagi. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah, karena mereka (makhluk halus) juga mempunyai kehidupan sendiri. Namun ruh tersebut kadang tidak terima jika jasadnya digunakan untuk keperluan praktikum. Sehingga ada beberapa yang suka mengikuti petugas ruang anatomi atau mahasiswa yang melakukan praktikum.
            Ruh sendiri menurut Pak Nyoto terbagi menjadi dua. Ruh yang keluar dari tubuh seseorang yang masih beragama (meninggal dalam keadaan baik-baik), dan ruh yang keluar dari tubuh seseorang dalam keadaan kafir. Jika  manusia meninggal dalam keadaan baik-baik dan beragama taat, tidak akan sulit untuk mengusirnya jika diinginkan. Tinggal membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, mereka pasti bisa mengenali ayat itu dan langsung menghindar. “Tapi kalau hantunya tidak kenal agama, mau dibacakan ayat satu Al-Qur’an sekaligus dia tidak akan mengerti. Jadi, sulit sekali mengusirnya.” ujar satpam yang mengisyaratkan keramahan sang pemilik suara itu.
            Untuk menangkal agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat kita ingin mengunjungi spot-spot yang memang dikenal angker di kampus A, ada beberapa tips dari Sunyoto yang dibagikan kepadaku. Pertama, siapkan segala masalah yang sedang kita hadapi akhir-akhir ini. Jika perlu, catatlah agar tidak lupa. Tujuannya adalah untuk mengisi pikiran kita supaya tidak kosong. Pikiran kosong adalah saat otak tidak bekerja dan pikiran benar-benar tidak terisi apapun. Tanda-tanda pikiran kosong adalah ketika kita melamun atau saat dimana kita tidak melihat objek kongkrit yang jelas-jelas di depan mata dan tidak mungkin untuk tidak melihatnya.
            Saat-saat seperti itu membuat pikiran menjadi lemah. Tak ada kekuatan untuk mempertahankan pikiran Sehingga akan sangat mudah untuk dimasuki ruh dari dunia lain. Kedua, usahakan untuk meminta ijin saat akan memasuki ruangan tertentu. Entah apapun bahasa yang akan kita gunakan, yang jelas bisa mengisyaratkan jika kita ingin berkunjung ke tempat mereka. Soalnya, kita belum tahu juga makhluk apa yang menjadi tuan rumah di tempat yang akan  menjadi tempat tujuan kita. Layaknya bertamu ke rumah sesama manusia, sang tuan rumah akan merasa dihargai jika tamunya meminta ijin dulu sebelum masuk. Bukan asal nyelonong saja.
            Ketiga, buang jauh-jauh fikiran sombong, congkak, dan egois. Cobalah untuk bersikap rendah hati dan terbuka, yakni tidak merasa jika hanya makhluk hiduplah yang bernaung di dunia ini. Rendah hati merupakan suatu hal yang aneh. Disaat kita merasa memilikinya, maka saat itu pula kita kehilangannya. “Karena, Tidak semua yang ada di dunia ini dapat dibuktikan keberadaanya,” itulah salah satu pesan yang aku tangkap dari sosok humoris nan ceria itu. (ula)

Kamis, 31 Maret 2011

Cerita Cinta Keluarga dan Tanah Air

Minggu malam (26/3), merupakan hari bersejarah bagi Unit Kegiatan Teater Tiyang Alit Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pasalnya malam itu mereka menggelar pentas studi larva sebagai wadah apresiasi pertama yang dilakukan angkatan baru, 2010 untuk pertama kalinya. Mulai dari pra produksi, hingga produksi pementasan . hal itu tidak lepas dari bantuan kepompong bersama dewan adatnya.
Bertema “Harmonisasi Cinta dan Kehidupan”, teater tiyang alit turut mengundang perkumpulan teater dari universitas lain. “Puas rasanya, udah bisa mengadakan pementasan dan disaksikan oleh penonton dari luar” ujar Renny Elvira, pimpinan produksi pementasan. Namun mereka tetap mendapat bantuan dari senior.
Pementasan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Sebagai pembuka, ditampilkan drama berjudul berjudul “Ayah dan Cinta”. Drama yang berlangsung selama kurang lebih empat puluh lima menit itu bercerita mengenai seorang anak yang kesepian karena orangtuanya terlalu sibuk bekerja. Gadis SMP bernama Cinta harus menelan sendiri atas kesedihan yang dirasakan akibat ditinggal mati oleh ibunya. Esensi dari drama pembuka itu adalah bahwa seorang anak jauh lebih membutuhkan kasih sayang dari orangtuanya secara batin daripada materi. “Percuma saja kita diberi kelimpahan harta namun miskin kasih sayang” tambah mahasiswi Statistik itu.
Penampilan kedua bertajuk musikalisasi puisi. Seorang gadis membacakan semacam puisi berbahasa jawa dengan diiringi alunan gitar. Sebagai penutup, penampilan terakhir sengaja dibuat sebagai penyegaran. Jika penampilan sebelumnya terkesan serius dan mengharukan, maka di penampilan terakhir banyak terselip unsur komedi yang kerap membuat penonton tergelak. Drama berjudul “Para Perusak”, seolah menyentil penonton agar memelihara kekayaan negara. Lebih lanjut mengenai pemanfaatan kekayaan negara harus dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Apalagi dijual pada negara asing. “Penampilan terakhir disajikan sedikit nakal, namun sarat akan arti” pungkasnya(ula/)

Minggu, 27 Maret 2011

Aksi Donor Pahlawan Kemanusiaan


Aksi Donor Pahlawan Kemanusiaan
SUKA RELA : Para Pedonor merelakan darahnya diambil untuk disumbangkan kepada orang yang membutuhkan.
SURABAYA – Aksi Donor Darah berlangsung di ruang Wi-Fi Lt.1 Perpustakaan kampus B Unair kemarin, Jum’at (25/3). Kegiatan donor darah kali ini diadakan oleh Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi dan Budaya (FEB) Unair sesuai progam kerja mereka yang telah ditetapkan pada tahun 2011. Dalam satu periode masa jabatan, donor darah akan dilaksanakan dalam dua periode. “Periode pertama di bulan Maret, yaitu kemarin. Lalu periode kedua insyaAllah akan digelar pada bulan Oktober yang bertepatan dengan diesnatalis FEB” ujar Putri, salah satu staf Pengmas.
Pendaftaran donor darah mulai dibuka pada pukul 09.00 WIB. Tercatat hingga pukul 12.00 WIB sudah tujuh puluh sembilan orang yang mendaftar sebagai pedonor. “Alhamdulillah, saya selaku panitia merasa puas karena masih banyak teman-teman mahasiswa yang rela menyumbangkan darahnya”, imbuh Putri.
Untuk menjadi pedonor, telah diberlakukan syarat-syarat khusus. Diantaranya adalah rentan usia antara 17-60 tahun, memiliki berat badan minimal 46 kg, kadar hemoglobin minimal 12,5 g/dl, serta tekanan darah sistolik antara 100-160 mmHg dan Diastolik 70-90 mmHg.selain itu, pedonor juga harus dalam keadaan sehat, tidak sedang menderita penyakit serius atau dalam pengaruh obat-obatan. Khusus untuk wanita yang sedang haid, hamil atau menyusui juga tidak diperkenankan untuk menyumbangkan darahnya. “Wanita yang sedang haid sudah banyak mengeluarkan darah, kalau darahnya juga diambil untuk donor, dia akan merasa lemas” terang dr. Diah Tunjungsari, dokter khusus dari PMI yang bertugas kala itu.
Setelah syarat diatas terpenuhi dan seseorang diperbolehkan untuk melakukan donor, akan dilakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Pertama adalah penimbangan berat badan, lalu pemeriksaan golongan darah dan kadar hemoglobin. Dilanjutkan oleh pemeriksaan kesehatan sederhana oleh dokter. Secara umum, pengambilan darah membutuhkan waktu ±10 menit. Jika dihitung keseluruhan mulai dari pengisisan formulir sampai pengambilan darah selesai, kira-kira berlangsung selama 40 menit. Satu hal yang tak boleh dilupakan sebelum mendonorkan darah, yaitu makan yang cukup.
Sebagai bentuk rasa terimakasih dari PMI, mereka memberikan goody bag kepada masing-masing pedonor. Tas kecil berwarna putih dengan lambang PMI yang berwarna merah itu berisi biskuit, susu, serta vitamin untuk memulihkan tenaga. Salah satu peserta donor darah bernama Orrinda mengaku puas karena sudah bisa melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain. “Jujur ini pengalaman pertamaku, meskipun awalnya deg-deg an, tapi setelah itu aku merasa lega karena nggak seserem yang aku bayangin. Semoga darahku bisa menolong orang di luar sana yang sedang membutuhkan” ujar mahasiswi berjilbab itu sambil tersenyum. (ula)